Alfalfa (juga disebut lucerne) mungkin bukan tanaman yang paling menarik untuk ditanam, tetapi sangat dapat diandalkan. Alfalfa diminati di seluruh dunia sebagai tanaman pakan ternak, dan karena tingkat pertumbuhannya yang cepat dan hasil panen yang tinggi, tanaman ini dapat menjadi penghasil uang yang solid. Lebih lanjut, alfalfa juga mengembalikan nutrisi penting ke dalam tanah, termasuk nitrogen, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk rotasi tanaman .
Menanam alfalfa relatif mudah, tetapi tetap memiliki tantangan tersendiri. Baca terus panduan lengkap kami tentang menanam dan membudidayakan alfalfa serta memaksimalkan hasil panen.
Persyaratan dan Persiapan Tanah
Alfalfa tidak terlalu pilih-pilih soal tanah, tetapi tumbuh paling baik di tanah lempung yang dalam, mudah mengalirkan air, dan memiliki pH sekitar 7. Tanaman ini membutuhkan tanah yang dalam—setidaknya tiga kaki agar dapat tumbuh secara efektif.
Lakukan uji tanah sebelum menanam alfalfa dan bersiaplah untuk memberi pupuk sesuai kebutuhan. Sebagai tanaman polong-polongan, alfalfa dapat mengikat nitrogen (N) sendiri, jadi pertimbangkan untuk menanamnya di lahan yang kekurangan nitrogen, karena alfalfa akan mengembalikan nitrogen ke tanah. Jika tidak, pemupukan optimal untuk alfalfa adalah sekitar 20-30 ppm untuk fosfor (P) dan 150-170 ppm untuk kalium (K).
Selain itu, sejumlah kecil sulfur (S) dapat bermanfaat jika ditanam di tanah berpasir, sekitar 12 ppm. Kalsium (Ca) juga diperlukan untuk pertumbuhan, tetapi biasanya tambahan Ca tidak dibutuhkan kecuali jika tanah sangat kekurangan kalsium.
Penyiangan juga diperlukan selama berbagai tahap pertumbuhan alfalfa, terutama pada masa perkecambahan, karena gulma dapat dengan cepat menghambat pertumbuhan tanaman. Lahan harus sebisa mungkin bebas dari gulma, atau alfalfa dapat ditanam secara bergantian dengan tanaman lain seperti jagung atau gandum untuk mencegah gulma tumbuh.
Selain itu, herbisida pra-tanam sering direkomendasikan untuk menjaga keamanan tanaman alfalfa.
Pemilihan Benih
Tersedia banyak varietas alfalfa, untuk berbagai kebutuhan dan iklim:
- Ketahanan terhadap Musim Dingin : Keseimbangan harus dijaga di sini, berdasarkan iklim Anda. Tanaman harus mampu bertahan hidup di musim dingin, tetapi ketahanan terhadap musim dingin yang berlebihan akan mengurangi hasil panen secara keseluruhan.
- Dormansi Musim Gugur : Semakin sedikit masa dormansi alfalfa, semakin tinggi hasil panen secara keseluruhan — tetapi tanaman tersebut tetap harus mampu bertahan hidup di musim dingin. Skor dormansi menengah biasanya yang terbaik, tetapi sangat bergantung pada iklim setempat.
- Ketahanan terhadap penyakit : Alfalfa umumnya rentan terhadap penyakit, dengan banyak varietas yang dikembangkan untuk ketahanan yang berbeda. Seleksi harus didasarkan pada penyakit yang umum ditemukan di daerah Anda.
Pertanyaan lain adalah apakah sebaiknya berinvestasi pada benih biasa atau memilih benih berlapis yang lebih mahal dengan tambahan pupuk atau antijamur. Apakah benih alfalfa berlapis menghasilkan panen yang lebih baik? Buktinya beragam , dengan hasil yang tidak konsisten bahkan di area dasar yang sama.
Jika lahan Anda diketahui menjadi tempat berkembang biaknya penyakit atau jamur tertentu yang berbahaya bagi alfalfa, membeli benih berlapis yang menargetkan penyakit tersebut mungkin merupakan ide yang bagus. Namun, mungkin tidak perlu membeli benih berlapis kecuali Anda memiliki alasan khusus. Jika Anda membeli benih berlapis, ingatlah bahwa benih tersebut akan lebih besar dan lebih berat daripada benih biasa, Anda mungkin perlu mempersiapkan peralatan tanam Anda dengan tepat.
Pedoman Penanaman
Di sebagian besar iklim, alfalfa dapat tumbuh hampir sepanjang tahun, kecuali musim dingin. Secara teori, alfalfa dapat ditanam pada musim semi, musim panas, atau musim gugur. Namun, benih alfalfa sebaiknya tidak ditanam pada pertengahan musim panas karena suhu yang tinggi dan persaingan yang lebih ketat dari gulma.
Selain itu, kisaran suhu optimal untuk menanam alfalfa adalah sekitar 65 hingga 77°F (18 hingga 25°C). Alfalfa umumnya akan berkecambah lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi.
Benih harus selalu ditanam kurang dari 1 inci dalamnya — biasanya 0,25-0,5 inci di tanah liat, atau 0,75 inci di tanah berpasir. Penaburan benih dengan alat tanam (drill seeding) adalah metode terbaik, dibandingkan dengan penaburan secara acak (broadcasting), karena dapat memastikan semua benih ditanam pada kedalaman optimal sekaligus memastikan benih mendapatkan banyak air. Jarak antar baris sebaiknya 18-24 inci.
Selain itu, benih harus diinokulasi dengan Rhizobium meliloti — jamur simbiosis yang membantu tanaman polong-polongan mengikat nitrogen.
Irigasi dan Pengelolaan Air
Alfalfa adalah salah satu tanaman yang paling banyak membutuhkan air, dan akan memerlukan air dalam jumlah yang cukup besar. Secara umum, alfalfa membutuhkan sekitar 20-40 inci air selama musim tanam, yang mungkin tidak seluruhnya dipenuhi oleh curah hujan. Irigasi kemungkinan akan diperlukan karena hasil panen akan sangat berkurang jika tidak menerima air yang cukup. Secara umum, anggaplah sekitar setengah dari air yang Anda berikan akan sampai ke tanaman, sementara setengah lainnya akan menguap atau meresap ke bawah.
Pada saat yang sama, hindari penyiraman berlebihan. Tanah yang tergenang air akan mendorong pembusukan akar dan pertumbuhan yang terhambat. Daun yang menguning adalah tanda bahwa tanaman kekurangan air. Penyiraman berlebihan dapat membunuh tanaman alfalfa, terutama dalam cuaca panas.
Pemupukan dan Pengelolaan Nutrisi
Sebagai tanaman polong-polongan, sebagian besar waktu, alfalfa mungkin tidak memerlukan pupuk nitrogen (N) — ia menghasilkan nitrogen sendiri , bersamaan dengan Rhizobium meliloti di sistem akarnya. Namun, alfalfa tetap membutuhkan fosfor (P) untuk mendorong pertumbuhan akar, dan kalium (K) untuk memperkuat ketahanan terhadap penyakit.
Selalu lakukan uji tanah sebelum menanam, dan secara berkala sepanjang musim, untuk memahami kadar nutrisi yang ada. Meskipun setiap lahan akan bervariasi, saran standar untuk pemupukan alfalfa secara berkelanjutan adalah 170-218 pon per acre kalium dan 18-22 pon per acre fosfor.
Selain itu, perhatikan juga kebutuhan unsur hara mikro tanaman. Bersama dengan pupuk P & K standar, alfalfa membutuhkan zat besi, mangan, klorida, boron, seng, tembaga, dan molibdenum. Namun, unsur-unsur ini hanya dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit, kurang dari lima pon per acre.
Pengendalian Gulma, Hama, dan Penyakit
Selain kemungkinan penyiraman berlebihan, ancaman terbesar bagi tanaman alfalfa Anda akan datang dari gulma, penyakit, dan hama.
Gulma
Gulma dapat dengan cepat menghambat pertumbuhan alfalfa — bersiaplah untuk menggunakan hampir semua cara yang diperlukan untuk mencegahnya tumbuh. Banyak pertanian memilih untuk menggunakan varietas alfalfa yang tahan herbisida. Jika tidak, tetap gunakan herbisida standar dan lakukan penyiangan manual untuk mengendalikan gulma. Kamera pertanian juga dapat membantu Anda memantau pertumbuhan gulma. Tanaman pendamping seperti gandum, oat, atau jagung dapat mengurangi pertumbuhan gulma — tetapi tanaman tersebut juga akan mengambil nutrisi dari alfalfa dan kemungkinan akan mengurangi hasil panen.
Hama
Banyak serangga yang terlihat di ladang alfalfa Anda tidak berbahaya, tetapi ada beberapa yang perlu diwaspadai. Secara khusus, ulat tanah, kutu daun, dan kumbang alfalfa dapat menyebabkan kerusakan paling parah pada ladang.
Pengamatan visual atau pemantauan melalui kamera pertanian adalah cara terbaik untuk mengawasi potensi serangan hama. Insektisida atau pemusnahan secara manual harus segera dilakukan jika ada ancaman yang terdeteksi.
Penyakit
Secara umum, cara terbaik untuk menghindari penyakit alfalfa adalah melalui rotasi tanaman, biasanya dengan serealia dan rumput pakan lainnya, setiap dua tahun sekali. Hal ini akan mencegah penyakit alfalfa bertahan di tanah setelah panen tertentu.
Selain itu, menggunakan benih berlapis yang terlindungi dari penyakit atau jamur tertentu dapat membantu. Sekali lagi, selalu pastikan untuk membeli benih Anda dari penjual bersertifikat untuk memastikan benih tersebut sehat dan bebas penyakit.
